Rabu, 31 Agustus 2011

Kesadaran Diri VS Kemewahan Bangsa

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala
Tetap di puja-puja bangsa

Reff :
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
Tiada bandingnya di dunia
Karya indah Tuhan Maha Kuasa
Bagi bangsa yang memujanya

Reff :

Indonesia ibu pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
Tenagaku bahkan pun jiwaku
Kepadamu rela kuberi



Tentunya anda masih ingat dengan lagu Indonesia Pusaka tersebut. Lagu yang sering dikumandangkan pada saat kita masih mengenyam pendidikan di taraf playgroup maupun sampai Sekolah Menengah Atas. Tetapi sesungguhnya masihkah lagu tersebut bermakna?

Sejenak penulis merefleksi diri untuk lebih menyadari tentang betapa besar dan mewahnya Indonesia dibanding negara-negara lain di muka bumi ini. Negara yang mana selalu menjadi rebutan pengaruh bagi negara-negara besar. Namun, adakah Indonesia sendiri sadar betapa luar biasanya Indonesia dimata dunia?

Hal yang simpel namun tak pelak selalu luput dari penglihatan kita adalah ketidaksadaran akan kemewahan itu sendiri. Banyak yang merasa kemewahan ini hanya sekedar rahmat dari Tuhan YME ataupun warisan dari para leluhur untuk kesejahteraan kita saat ini, namun pertanyaan simpelnya sampai kapankah rahmat atau warisan ini benar-benar tetap menjadi rahmat?

Saat pertama kali penulis melihat esensi dari kenyataan ini, penulis tersentak hatinya. Dia menyadari kerendahan dan ketidakberdayaan dirinya. Andai kata generasi muda seperti penulis benar-benar menyadari hal ini.

Melihat ke dalam diri penulis yang terdalam, akhirnya penulis terilhami oleh sebuah ilustrasi. Ini semua diibaratkan sebuah harta yang mana tentunya ada masanya. Sejauh mata melihat memang kita yang ada dalam masa sekarang ini belum melihat dengan jelas ujung dari batas kemewahan tersebut. Tetapi, apakah kita akan menunggu sampai batas kemewahan negara benar-benar dapat kita lihat dengan jelas?

Hal simpel berikutnya, adakah kita khawatir tentang generasi setelah kita? Bagaimana jika kita benar-benar telah menjadi aktor utama dari kesengsaraan yang akan diterima generasi-generasi penerus kita. Apakah hanya menyesal kelak kita akan menyelesaikan segala perkara yang mana berawal dari kesalahan kita?

Tentunya pribadi saudaralah yang mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan sejujur-jujurnya. Penyesalan memang selalu datang belakangan.

Tetaplah percaya pada kemampuan saudara dan kebaikan saudara, maka saudara tahu apa yang sebaiknya saudara perbuat untuk bangsa dan negara kita yang tercinta ini.